Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

02 Juni, 2016

Demo Ala Srikandi dan Pergiwo

Demo Ala Srikandi dan Pergiwo

Demo Ala Srikandi dan Pergiwo. Semboro sangat kebingunan melihat ulah Srikandi yang membawa wanita amarta menuju taman madukoro. Sembodro bingung lantaran Srikandi datang untuk memimpin demo atas kebijakan yang diambil, yaiti subo sito tentang memakai pakaian pisowanan di keraton amarta, khususnya bagi kaum wanita amarta.

Kedatangan Srikandi beserta rombongan walaupun hanya naik becak yang dikayuh oleh para batut-batur Amarta yaitu Gareng, Petruk dan Bagong sudah membuat kerepotan Sembodro.Bagimana tidak repot, lha wong Srikandi cs datang dengan pakaian separo dengan celana panjang dan separo dengan rok mini. Yang membuat bingung lagi, Gareng, Petruk dan bagong justru memakai rok istri-istrinya dalam mengayuh becak yang ditumpangi para bendoro-bendoronya untuk berdemo.

http://poskataku.blogspot.com


"Srikandi, kamu itu apa-apaan sih, mengapa tiba-tiba kamu datang ke taman madukoro dengan cara semacam ini, memimpin demo segala, apa sih yang kamu inginkan?" tanya sembodro dengan hati yang kesal.
Silahkan baca juga  :  Mimpi Sang Penjaja Koran
"Mbakyu Sembodro, apakah mbakyu tidak merasa kedatangan kami ini juga karena kebijakan mbakyu soal pakaian pisowanan bagi para wanita-wanita Amarta?" Srikandi balik bertanya dengan tidak kalah ketusnya.
    
"Ya kami-kami ini tidak puas atas kebijakan yang bibi Sembodro ambil," terik Pergiwo dengan lantang. ya pokoknya aku juga tidak stuju kalau pakaian untuk pisowanan di Amarta terlalu mengekang kebebasan, kata Pergiwati tidak kalah ketusnya.
    
"Maksudnya kebebasan menurutmu apa he Pergiwati?" tanya Sembodro semakin jengkel melihat ulah keluarga wanita Amarta kok bisa menentang kebijakan yang sudah diambil oleh Sembodro.
    
"Gini lho kakang mbok Sembodro," Srikandi mengambil alih jawaban yang ditujukan kepada Pergiwati, "kami ini para wanita Amarta sebenarnya bukan soal aturan mainnya, akan tetapi kebijakan uang kakang mbok ambil bisa merugikan wanita-wanita Amarta juga. Lha alasanku, belum bisa mewakili kepentingan para wanita, tapi sekali lagi bukan karena alasan kami gak patuh aturan dan gak mau disiplin lho kakang mbok"
    
"Kepentingan yang mana yang kamu maksud Sri, bukankah ini wujud implementasi peraturan yang wajib dilaksanakan oleh para wanita Amarta?" kata Sembodro balik bertanya pada Srikandi. Trus soal pakaian wanita Amarta kan sudah ada dari dulu kalau aturannya gini-gitu dan sekali lagi sebuah aturan harus dipatuhi dan dilaksanakan.
    
"Tidak bisa," tiba-tiba Pergiwo emosi tanpa kontrol hngga gebrak-gebrak meja Sembodro. "mestinya bibi Sembodro melihat kondisi yang ada sekarang, apakah kebijakan ini merupakan hal yang sangat prinsip dan mestinya bibi Sembodro juga terlebih dahulu harus mengakomodir suara-suara wanita Amarta yang kurang sepaham atau sependapat dengan bibi Sembodro. Coba mereka sudah memhami soal pakaian pisowanan dengan berbagai argumen, pandangan yang tidak saja dilihat dari aspek aturan, kewajiban, kondisi dan ekonomi".
    
Kok aneh to alasanmu he Pergiwo," bentak Sembodro ikut-ikutan emosi mendengar alasan-alasan yang diungkapkan oleh Pergiwo. "Aku ini juga wanita seperti kalian ini. Namun yang harus dipahami aku ini juga menjalankan perintah atasan yang dalam hal ini adalah kakang mas Arjuna. jadi kalau kalian tidak setuju ya demonya jangan ke aku tapi ke kakang Arjuna yang lebih berkompeten soal pakaian pisowanan wanita Amarta"
    
"Lha kakang mbok kan sebagai kepanjangan tangan kakang mas Arjuna mestinya ya harus tau, paham dan mengerti apa soal kebijakan ini. Coba kang mbok renungkan kaum wanita Amarta juga punya alasan soal pakaian sekarang, tidak hanya melihat dari sisi aturan yang ada, tapi bagaimana aturan yang ada mestinya dari dulu yang harus diterapkan, jangan sampai tidak konsisten, sementara sudah lama aturan ini tidak mutlak dilaksanakan. Punggawa wanita di Amarta sudah terlanjur mempersiapkan aturan pakaian pisowanan Amarta dilihat dari keluwesannya,. Artinya luwes mungguhing diri, luwes mungguhing projo, lan luwes mungguhing liyan," jawab Srikandi membuat Sembodro tercenung sejenak.
    
"Dan yang saya tau, mereka juga mempunyai pandangan soal pakaian pisowanan dikaitkan dengan kesetaraan gender. Ini kan namanya kurang adil bagi wanita to, mengapa pakaian pisowanan menjadi masalah yang ribet dan mestinya tidak jadi begini kalau kakang mbok dari dulu menunjukkan konsistensinya dalam hal aturan pakaian pisowanan wanita Amarta. Marilah kita duduk bareng, jangan menyelesaikan masalah hanya mengunakan aturan saja. Tapi nampakny soal pakaian sudah memasuki ranah pribadi, privasi harga diri dan sopan santun. Mari bicarakan soal keluwesannya dan kepentingannya apa, agar tidak menjadi masalah yang kurang baiak dari sisi yang mempengaruhi pro dan kontra soal ini," kata Srikandi memberikan alasannya.
    
Sembodro malah hanya diam terpekur mendengar ungkapan Srikandi. dia hanya berdiam diri dan tak tau apa yang harus dilakukan agar semua aturan dapat memberikan kebermaknaan baik dari segi aturan, disiplin dan perubahan kondisi kehidupan sosial yang sekarang menjadi titik pencermatan dalam pola dan perilaku dalam bermasyarakat, dan bernegara, terlebih dalam konteks pelaksanaan bagi aparatur.

http://poskataku.blogspot.com
   
tiba-tiba Bagong mengagetkan keterpekuran Sembodro, Gareng, Petruk sebenarnya dari tadi juga bingung melihat bendoro-bendoronya bertengkar soal pakian. " Tau ndak ndoro Sembodro, kemarin saya melihat wanita Amarta hanya diem saja gak mau turun-turun dari tangga, dia seperti ketakutan karena sesuatu, dia hanya mepet tembok," kata Bagong.
    
"Lha kenapa gong?' tanya gareng penasaran. "Lha wong ndoro arjuno nggak mau pergi pergi dari tangga, malah ndoro Arjuno ngeiatin atas terus, padahal kemarin ndoro Pergiwo pakai rok mini," jawab Bagong.
    
"Ooooo, layak gong, jadi besok banyak orang tengeng Gong......

28 Juni, 2015

Salahkah Aku Jika Aku Menjadi Pembunuh

Salahkah Aku Jika Aku Menjadi Pembunuh

Namaku Awa Mbae aku lahir di sebuah Desa Parabubu Kecamatan Mego Nusa Tenggara Timur. Demi untuk merubah hidupku dan keluargaku kubulatkan tekat untuk merubah nasib dengan menjadi buruh migran di negara orang.


*****

Dengan hanya bermodalkan ijasah sekolah dasar yang aku miliki, aku mencoba peruntunganku dengan mendaftar sebagai TKI. Seandainya di negeri ini aku bisa mendapatkan pekerjaan, aku lebih senang untuk kerja di negaraku sendiri, namun apa yang bisa aku dapat di negri ini kalau hanya mengandalkan ijasah sekolah dasarku.

Lima bulan lamanya aku dipenampungan, setelah dirasa cukup memliki bekal dengan pelatihan-pelatihan yang aku jalani, akhirnya bersama 15 orang aku diberangkatkan untuk bekerja sbagai pembantu rumah tangga dengan negara tujuan arab saudi.

Aku merasa gembira, dalam hatiku aku berkata " Inilah jalan untuk merubah nasibku dan keluargaku " Namun dilain sisi aku juga merasa sedih karena harus meninggalkan keluargaku untuk waktu yang cukup lama.

*****

Enam bulan telah berlalu, bayangan kebahagiaan yang dulu aku dambakan untuk bisa mendapatkan uang yang banyak untuk aku dan keluargaku ternyata hanyalah bayangan semu belaka. 

Bukanya uang yang aku dapatkan namun siksaan-demi siksaan yang aku alami, dan akupun tidak pernah melihat yang namanya uang, apalagi gaji bahkan hanya untuk sekedar makanpun aku harus seperti kucing. Dalam penderitaanku aku tak tau harus mengadu kepada siapa.

Dalam penderitaan yang aku alami, yang aku bisa hanyalah berdoa kepada sang pencipta semoga Tuhan mengirimkan malaikatnya agar aku bisa terlepas dari penderitaan ini.

Namun Bukannya penderitaan yang berakhir, namun sebuah malapetaka besar harus aku alami, yah.... mungkin Tuhan mempunyai kehendak lain tentang diriku, hingga ajalku harus berakhir di tiang gantungan di negara orang.

*****

Malam itu ketika bos ku dan seluruh keluarganya pergi. dirumah hanya tinggal aku dan Abdullah anak sulung dari bosku yang kebetulan tidak ikut pergi. Sebuah malapetaka terjadi ketika Abdullah mencoba untuk merenggut kehormatanku yang selama ini aku pertahankan.

Saat rumah dalam keadaan sepi tiba-tiba Abdullah masuk kekamarku dan langsung membekapku untuk melayani nafsu bejatnya. Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk mempertahankan kehormatanku.

Dengan susah payah akhirnya aku bisa melepaskan diri, aku berlari menuju dapur namun dengan wajah seperti setan abdullah tetap mengejarku.

Dalam ketakutanku, aku menggapai sebuah pisau dapur untuk melindungi diri, dan aku masih ingat saat pisau ditanganku menembus lambung abdulah. Dengan tubuh yang menggigil dalam ketakutan aku melihat wajah abdullah dengan mata melotot sebelum akhirnya jatuh dengan bersimbah darah tidak bernyawa lagi.

*****

Aku masih kuat untuk menerima siksaan namun, aku tidak bisa lagi menahan amarahku ketika kehormatanku akan direnggut. Kini aku hanya berpasrah dengan hukuman yang harus aku jalani.

Kini aku hanya tinggal menghitung hari hingga sampai saatnya nyawaku harus berakhir di tiang gantungan. Dalam keputus asaan aku hanya bisa berucap " Tuhan... Salahkah Aku Jika Aku Menjadi Pembunuh "

*****
Cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan nama maupun daerah. Silahkan baca juga Cerpen 

01 Juni, 2015

Ternyata Aku Telah Mati

Ternyata Aku Telah Mati

Aku merasa terasing dimana saat ini aku berada, sejauh aku memandang yang terlihat hanyalah padang yang luas tanpa tepi. Aku semakin bingung karena tak ada satu makhluk hiduppun yang aku temui ditempat itu. Dalam rasa kebingunganku, aku seret langkah kakiku walupun akau tak tak tau harus berjalan kemana.

http://poskataku.blogspot.com

Terik matahari begitu menyengat seperti mau membakar seluruh tubuhku, karena ditempat itu tak ada satu tempatpun yang aku lihat untuk berteduh, rasa haus mulai mendera, namun dimana aku bisa menemukan air untuk melepaskan dahagaku?, entah kenapa tiba-tiba rasa takut mulai menghinggapi perasaanku, Aku jadi teringat anak istriku dan seluruh keluargaku. aku ingin segera pulang, namun aku tak tau harus lewat mana.

Silahkan Baca Juga  :  Hikmah Dibalik Sakit

Dalam ketakutan dan kebingunganku tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangku "Sudah saatnya kamu pulang" seperti disambar petir aku mendengar suara itu, aku menoleh kebelakang, dan betapa terkejutnya aku melihat sesosok tubuh dengan pakaian jubah serba putih sampai menutupi kepalanya, aku tidak bisa melihat wajah orang tersebut karena dia berdiri membelakanggiku.

Belum hilang rasa terkejutku kembai orang itu berkata "Sudah Saatnya kamu pulang", dalam rasa binggung dan takut aku mencoba memberanikan diri untuk balik bertanya "Kamu siapa?", orang itu menjawab dengan sedikit suara yang agak keras "Kamu tidak perlu tau siapa aku" setelah berkata, orang itu kemudian berjalan meninggalkanku, aku seperti tersihir dan tak bisa berucap apapun selain mengikuti langkah orang itu, sepajang perjalanan tak ada sepatahkatapun yang terucap dari kami.

Setelah sekian lama berjalan, tiba-tiba orang yang berjubah putih itu berhenti, akupun ikut berhenti dibelakangnya, kembali orang itu berucap "Hanya sampai disini aku mengantarmu" kebingunganku semakin bertambah, di tempat itu tak ada satupun jalan kecuali hanya padang yang luas seperti tak berujung, tapi kenapa orang itu berkata hanya sampi disini dia mengantarku, dan aku bertanya dalam hatiku sndiri aku harus lewat mana untuk pulang?.

Masih dalam kebingunganku kembali orang itu berkata, orang itu seperti tau apa yang sedang aku fikirkan "Pejamkanlah matamu niscaya kamu akan melihat jalan pulang". Dengan rasa heran yang berkecamuk didalam hatiku aku menuruti perintah orang itu untuk memejamkan mataku. Keheningan tersa saat ku memejamkan mata, sesaat setelah mataku terpejam aku kembali membuka mataku, sebuah keanehan kembali terjadi dan itu semakin membuatku terpaku dalam keheranan, sosok orang dengan pakaian serba putih itu telah lenyap dari hadapanku, aku menoleh kesana kemari untuk mencari orang itu, namun sosok orang itu seperti lenyap ditelan bumi.

Kembali suara itu terdengar "Tunggu apa lagi, sudah saatnya kamu pulang...!!" Aku terkejut bukan kepalang, aku membalikkan tubuhku ke arah suara itu, namun tak ada satupun manusia di tempat itu kecualai aku. Tubuhku mengigil dalam ketakuatan yang teramat sangat menykapi apa yang terjadi, secepat kilat aku putuskan untuk berbalik, namun apa yang terjadi setelah aku membalikkan tubuhku,...?
Halaman : 1 2

05 Februari, 2015

MIMPI SANG PENJAJA KORAN

MIMPI SANG PENJAJA KORAN



Cerpen

     Sore itu disimpang jalan ibu kota sebuah mobil keluaran luar negri berjalan agak perlahan, seorang wanita dengan pakaian mewah dengan tanpa dosa melemparkan kardus berisi makanan mahal ke tepi jalan. Sebuah pemandangan yang sudah biasa di negeri ini, terlalu banyak orang yang kurang menghargai apa itu syukur dan berbagi.

     Sementara itu di tepi jalan Fahri kuyub menggigil menahan dingin tanpa jas hujan untuk menjajakan koran, dalam hati Fahri bergumam “dasar orang kaya membuang sampah sembarangan” perlahan Fahri mendekati kardus yang dibuang oleh wanita dalam mobil mewah tadi, Fahri bermaksud membuang kardus itu kedalam tempat sampah, alangkah terkejutnya Fahri bercampur gembira saat melihat isi kardus yang berisi fried chicken yang masih layak untuk dimakan, sekali lagi Fahri bergumam “dasar orang kaya makanan masih begini kenapa dibuang ya,? Ah..mas bodo lah mungkin mereka memang terlalu bayak uang, ibu dan adik pasti senang kalu aku pulang membawa makanan ini” lalu Fahri memasukkan makanan  itu kedalam tas lusuhnya.

     Hari menjelang mahrib tapi hujan tak reda, Fahri sedikit murung karena surat kabarnya belum semuanya terjual. Fahri tersadar dari lamunanya saat mendengar adzan mahrib dari masjid di seberang jalan, bergegas Fahri berjalan menuju masjid untuk sholat. Selepas sholat mahrib Fahri keluar dari dalam masjid untuk kembali menjual korannya yang belum semuannya terjual , sesampai di dekat pintu Fahri memandang kotak amal yang terletak disebelah pintu, Fahri merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang kertas seribuan dan memasukannya kedalam kotak amal itu.

     Menjelang isya’ Fahri melangkah pulang walaupun korannya tidak habis semua, sampai dirumah Fahri menghitung hasil jualan korannya hari ini, lalu ia berkata pada ibunya “ibu hari ini Fahri hanya mendapatkan dua puluh sembilan ribu bu, sebenarnya tadi genap tigapuluh ribu tapi yang seribu Fahri masukkan ke kotak alam dimasjid” ibunya mendekati Fahri dan memeluknya sambil berucap “tidak apa-apa nak, kita syukuri saja, rezeki itu sudah Allah yang mengatur ” sambil berdiri Fahri berkata kembali “ oh iya bu uangnya dibagi 3 ya,yang sepuluh ribu ditabung untuk biaya sekolah Fahri dan adik, yang sepuluh ribu buat belanja ibu dan yang sembilan ribu ditabung untuk biaya umroh ibu, kan ibu berencana untuk umroh,?” sambil terharu ibu Fahri memeluknya anaknya sambil berkata “iya nak...”. 

     Fahri teringat makanan yang dibuang orang dalam mobil tadi dan diambilnya, dengan bergegas Fahri melepaskan pelukan ibunya, sambil membuka tas Fahri berkata “ibu Fahri membawa makanan enak nih, adik dimana bu, ayo kita makan”, ibunya tak menjawab perkataan Fahri, ia hanya memandang makanan yang dibawa Fahri dengan curiga, “Fahri kamu mendapatkan makanan itu dari mana, itu kan makanan mahal,” kata ibu Fahri dengan sedikit keras, “kamu mencuriya,?... tidak bu jawab Fahri, Fahri mengambilnya dijalan, tadi orang didalam mobil membuangnya, tadinya Fahri mau membuangnya ke tempat sampah tapi waktu Fahri lihat makananya masih bisa dimakan terus Fahri bawa pulang” jawab Fahri. “ya sudah kalau begitu kamu panggil adikmu kita makan sama-sama, hanya ibu berpesan kepadamu, lain kali jangan sekali kali kamu mengambil barang yang bukan milik kamu, “tidak bu, itu kan barang yg sudah dibuang” iya sudah kamu panggil adikmu sana.

     Setelah selesai makan Fahri bergegas ke meja belajarnya, dia membuka buku dan mengejakan tugas dari sekolah, tugas sekolah belum selesai kerjakan tapi Fahri sudah tidak kuat meahan kantu yang mendera karena terlalu lelah. Cepat langkah sang waktu berjalan, sang pagi sudah menunggu si Fahri. Pagi itu Fahri sibuk mempersiapkan buku, tugas dari sekolah hanya selesai setengah ia kerjakan, bergegas Fahri siap-siap untuk berangkat sekolah demi merajut mimpi-mimpi yang kerap menggangu tidurnya.

Baca Juga  : Ternyata Aku Telah Mati

01 Februari, 2015

Tentang Kita Yang Takkan Pernah Akan Kulupa

Tentang Kita Yang Takkan Pernah Akan Kulupa

http://poskataku.blogspot.com


      Gadis itu bernama Lulu,... sedikit tomboy, periang dan juga cantik. Namaku Arya, awal pertemuanku dengan dia disebuah apartemen tempat aku bekerja,tepatnya di kota Kuala Lumpur. Mungkin karena sama-sama sebagai buruh migran di negara orang,membuat kami semakin dekat karena merasa senasib sepenanggungan.
      Dia berasal dari keluarga yang broken home, bapak dan ibunya bercerai, dan Lulu ikut ibunya yang sekarang tinggal di malaysia, tidak aneh kalau dia sedikit tomboy, mungkin karena akibat dari perceraian ibu dan bapaknya.  


*****

      Tak terasa waktu berlalu, aku dan lulu akhirnya menjadi pasangan kekasih yang sangat romantis, ku akui Lulu bukan cinta pertamaku, tapi didalam diri Lulu aku temukan kedamainan yang tak pernah aku dapatkan pada wanita lain yang pernah mengisi hatiku,aku merasa nyaman sekali setiap dekat dengannya.
      Setahun telah berlalu kami lewati masa-masa indah itu, hingga sore itu di bangku taman kota sebuah kejujuran merubah segalanya. Sore itu udara begitu cerah,matahari senja begitu indah di ufuk barat, tetapi keindahan itu berubah saat sebuah kejujuran mengungkap segalannya.
      “Arya,...maafkan aku bila kejujuran ini akan membuatmu membenciku dan juga akan mengakhiri hubungan kita” dengan nada lirih Lulu mulai membuka kata-kata, ”terserah kau menilaiku sebagai wanita  apa,semua akan aku terima,aku sangat berterima kasih kepadamu karna selama ini kau telah menerima aku apa adanya, kau yang membuat semangat hidupku kembali ada,dan kamu juga yang memberi warna dalam kehidupanku”
      “Memangnya ada apa lu..?” tanyaku, Lulu hanya terdiam, sekilas kulihat butiran air mulai membasahi pipinya.
      “Arya,...sebenarnya aku ingin menceritakan ini sejak dulu, tapi aku takut akan kehilangan dirimu, karena aku sangat mencintaimu, tapi sekarang mungkin sudah waktunya semua itu terungkap”, dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya Lulu melanjutkan kata-katanya “Arya...aku telah membohongimu selama ini, sebenarnya aku sudah punya suami..”
      Kepalaku bagaikan disambar petir saat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkannya, namun aku hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa.
      Lulu kembali melanjutkan ucapannya “Arya... namun perlu kau ketahui, ada sesuatu yang belum pernah aku ceritakan kepadamu, kamu sudah tau kalu aku berasal dari keluarga yang broken home. Aku memang sudah menikah tetapi pria yang menikahiku adalah pria pilihan ibuku, dan yang lebih menyakitkan lagi suamiku menjualku untuk dijadikan wanita penghibur, hingga pada suatu hari aku bisa kabur dan sampai ketempat ini dan bertemu denganmu.
      Rasa amarah yang berkecamuk dalam dadaku sedikit mereda dan berubah menjadi rasa iba, kupeluk tubuhnya dengan erat,aku biarkan dia menangis sepuas mungkin dalam dipelukanku.
      Sejenak kami teridam dalam fikiran masing-masing, sambil kuhela nafas dalam-dalam aku berkata “Lu... aku bisa memahamimu,dan aku akan terima dirimu apa adanya, tapi.... “tapi apa?..” lulu balik bertanya.
      “Tapi untuk melanjutkan hubungan kita statusmu harus jelas lu.., agar kita tidak masuk dalam lingkaran dosa besar yang dibenci oleh Tuhan.
      “Arya...kamu tau ndak kenapa aku ceritakan semua ini, ini karena besok aku akan pulang kerumah ayahku, ayahku telah mengetahui semua tentang keadanku dan dia memintaku pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan semuannya.
      Tak terasa maktu hampir menjelang isya, akhirnya kami pulang dalam perjalanan pulang tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut kami,  kami saling terdiam dalam fikiran masing-masing.
      Sehari setelah kepulangan lulu ke Indonesia, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku, walupun kami sering berhubungan lewat telefon. Dua minggu telah berlalu kami pun masih saling bekomunikasi, mengijak minggu ketiga aku mulai kalang kabut karena tak ada kabar lagi dari Lulu, setiap aku telefon nomornya sudah tidak aktif, aku masih berfikir positif, tapi waktu semakin berlalu tiga bulan sudah tak terasa hari-hariku tanpa Lulu, hidupku mulai limbung,mungkinkah ini yang dinamakan cinta sejati?, aku tak tau.....
      Setahun telah berlalu, kujalani hidup meski terkadang tak memiliki makna, sampai suatu hari temanku menegurku “Bro sakit karna wanita itu.. obatnya hanyalah Wanita” aku tak mengubris perkataan temanku itu. Tapi benar juga sebulan setelah perkatan temanku, aku berkenalan dengan seorang wanita namanya Dewi. Sebulan setelah perkenalan itu aku dan dewa jadian dan langsung memutuskan untuk menikah.
      Tiga bulan berpacaran dengan dewi kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk menikah. Dua bulan berlalu setelah pernikahan aku dan dewi, kejadian mengejutkan kembali terulang, siang itu telfonku bunyi setelah kuangakat diseberang sana hanya terdengar isak tangis “aku begitu mengenal suara itu, suara yang tak asing lagi ditelingaku”
      “Kenapa kau tega lakukan semua ini” terucap suara dara telefon “aku begitu lama menunggumu, tp kenapa semua berakhir seperti ini” aku tak menjawab ,aku lagi-lagi hanya terdiam sambil kudengarkan isak tangisnya sampai telefon tertutup.
      Aku menghela nafas panjang sambil memandanggi wajah istriku yang lelap tertidur, dalam hati aku berbisik “Maafkan aku istriku, jika hatiku tak sepenuhnya milikmu,karna separuhnya lagi telah dibawa oleh orang lain.