Tampilkan postingan dengan label Belajar Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Sastra. Tampilkan semua postingan

07 Januari, 2015

Memahami Gaya Bahasa Puisi Yang Baik

Memahami Gaya Bahasa Puisi Yang Baik

Memahami Gaya Bahasa Puisi Yang Baik - Assalamualaikum, hallo pembaca dan semuanya, selamat tahun baru 2015 and sukses selalu.  Ok, dipostingan yang lalu telah saya bahas tentang Memahami Unsur-Unsur Puisi, dalam menulis puisi ataupun artikel biasanya tak lepas dari unsur Gaya Bahasa Atau Majas, untuk memahami majas lansung aja ke TKP.......

Puisi


Gaya Bahasa
Gaya bahasa atau majas dapat diartikan sebagai cara untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun secara tertulis. Gaya bahasa juga berarti cara orang berbahasa yang dapat menimbulkan kekuatan, sehingga menarik perhatian orang.

Majas adalah pemakaian kata yang melewati batas-batas makna yang lazim atau yang menyimpang dari makna harfiah. Majas berfungsi untuk menarik perhatian orang lain ketika seseorang mengomunikasikan ide/gagasannya kepada orang lain, baik secara tertulis maupun secara lisan. Dengan kata lain, majas berfungsi untuk meningkatkan efek berbahasa.

Secara umum, majas dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu majas pertentangan, majas perbandingan, dan majas penegasan.

1. Majas Perbandingan
Majas perbandingan berarti membandingkan benda/hal yang satu dengan benda/hal yang lain. Perbandingan itu ada yang secara eksplisit menggunakan kata pembanding, tetapi juga ada yang dibuat secara implisit (tanpa kata pembanding).

Macam-macam majas perbandingan antara lain sebagai berikut.
a. Majas personifikasi adalah gaya bahasa yang disusun dengan cara menganggap benda mati seolah-olah dapat berbuat seperti manusia.
Contoh: Di bawah senyum rembulan yang indah, kedua remaja itu memadu janji.

b. Majas metafora adalah gaya bahasa dengan membandingkan dua hal yang mempunyai kesamaan sifat, dan tidak memakai kata pembanding.
Contoh: Dewi malam baru saja turun dari peraduan. (bulan).

c. Majas perumpamaan dapat disusun dengan membandingkan secara langsung antara dua benda dengan menggunakan kata pembanding, misalnya umpama, laksana, misal, seperti, bagaikan, laksana, dansebagainya.
Contoh: Wajahnya pucat bagai bulan kesiangan.

d. Majas asosiasi dapat disusun dengan menghubungkan benda-benda yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh: Kalau ingin lancar nasibmu, kasih saja dia amplop.

e. Majas alegori adalah suatu majas yang memakai perbandingan langsung, biasanya binatang, dalam bentuk cerita yang sangat pendek.
Contoh: Di kantor ini ada seekor tikus yang menyebarkan bau busuk, suka kasak-kasuk, doyan makan kertas dan besi, jika direktur pergi tikus itu berkeliaran di atas meja.

f. Majas metonimia adalah majas yang menggunakan hubungan asosiasi, antara sesuatu yang dimaksud, dengan yang dinyatakan.
Contoh: Dia datang memakai Mobil bukan Motor.

2. Majas Pertentangan
Macam-macam majas pertentangan antara lain sebagai berikut.
a. Majas hiperbola, yaitu cara mengungkapkan suatu ide/gagasan dengan cara melebih-lebihkan, sehingga kadang-kadang tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi. Yang dilebih-lebihkan bisa jumlah, ukuran, maupun sifatntya.
Contoh: Kutendang bola sampai ke kaki langit.

b. Majas litotes, yaitu cara mengungkapkan ide/gagasan/pendapat dengan cara merendahkan diri untuk menghargai lawan bicara dan untuk kesopanan.
Contoh: Silakan mampir ke gubuk saya, Bu!

c. Majas ironi, yaitu cara mengungkapkan sesuatu dengan mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan yang ada, dan digunakan untuk menyindir lawan bicara.
Contoh: Alangkah sedapnya masakan ini walaupun kebanyakan garam.

d. Majas sinisme ialah cara mengungkapkan majas yang lebih kasar daripada ironi dengan disertai sikap yang tidak enak, bahkan sering lebih berterus terang.
Contoh: Ah, tidak sudi saya melihat wajahmu yang tampan itu!

e. Majas sarkasme adalah cara pengungkapan yang sangat kasar, seperti orang marah-marah, dengan mengeluarkan nama hewan sebagai bahan perbandingan.
Contoh: Dasar otak kerbau, masak empat kali empat kok delapan!

f. Majas eufemisme, yaitu majas yang disusun dengan menggunakan katakata penghalus, agar sopan dan lebih beradab.
Contoh: Orang itu agak terganggu pikirannya.

g. Majas alusio adalah majas yang digunakan dengan menggunakan pantun
atau peribahasa yang telah umum, yang diperkirakan semua orang telah memahami maknanya, maka tidak perlu diselesaikan.
Contoh: Dahulu parang, sekarang besi.

3. Majas Penegasan
Ada beberapa majas penegasan, antara lain sebagai berikut.
a. Majas pleonasme yaitu majas yang menggunakan kata secara berlebihan, mungkin sama arti, atau bersinonim, atau pemakaian kata yang telah termaktub dalam pengertian kata yang lain.
Contoh: Naiklah ke atas supaya jelas.

b. Majas paralelisme menggunakan kata-kata secara berulang-ulang. Jika yang diulang kata awal kalimat disebut anaphora, sedangkan lawannya adalah epifora.
Contoh: Ikut hati mati, ikut mata buta, ikut rasa binasa.

c. Majas repetisi, yaitu majas yang menggunakan perulangan kata dengan tidak memerhatikan letak atau posisi kata itu.
Contoh: Saya bukan budak, bukan budak kontrakan, sekali lagi bukan budak.

d. Majas tautologi menggunakan kata yang hampir sama pengertiannya beberapa kali agar lebih dapat dipahami.
Contoh: Tugas orang tua mengasuh anak, mendidik, dan membesarkannya sampai dewasa.

e. Majas klimaks, yaitu majas disusun dengan cara menyebutkan suatu secara berurutan makin lama makin meningkat.
Contoh: Dari kecil, kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan sampai tua keras kepalamu tidak berubah.

f. Majas antiklimaks, yaitu majas yang disusun dengan cara secara berurutan sifat dari yang besar yang makin lama makin melemah atau mengecil.
Contoh: Jangankan sejuta, seribu, seratus, sepuluh rupiah, bahkan rupiah, ayahmu baru tak punya uang sesenpun.

g. Majas retoris yaitu majas yang menggunakan kalimat tanya yang memerlukan jawaban. Jawaban itu telah ada atau terlihat pada atau situasi ang ada. Majas retoris biasa dipakai oleh orator dalam untuk membakar semangat.
Contoh: Mengapa kamu berbuat sebodoh itu?

h. Majas koreksio, yaitu majas yang dipakai untuk menarik perhatian cara meralat atau membetulkan bagian yang sengaja dibuat salah.
Contoh: Orang itu sahabatku, ah bukan, pacarku.

i. Majas asidenton adalah majas yang menyebutkan beberapa hal tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh: Kertas, sepatu, buku, pakaian, semua berantakan.

j. Majas polisendenton adalah majas yang menghubungkan beberapa secara berturut-turut dengan menggunakan beberapa kata penghubung.
Contoh: Mula-mula dia datang, kemudian duduk, lalu bercerita, menangis tersedu-sedu.

Demikian semoga bermanfaat.

29 Desember, 2014

Belajar Cara Menulis Puisi Yang Baik

Belajar Cara Menulis Puisi Yang Baik

Belajar Cara Menulis Puisi Yang Baik - Assalamualaikum, salam hangat untuk pembaca dan semuanya. Dikesempatan ini saya akan memposting pengetahuan tentang unsur-unsur puisi yang pernah saya pelajari waktu sekolah dulu, he...he... gayanya....TK aja ndak tamat... he...he... Ok langsung saja.


Puisi


Unsur - Unsur Puisi
Dalam menulis puisi, ada beberapa unsur yang perlu diidentifikasi, unsur-unsur puisi yang perlu diidentifikasi antara lain sebagai berikut  :

1. Tema Puisi
Tema merupakan gagasan pokok penyair yang dituangkan dalam bait-bait puisinya. Tema berasal dari berbagai masalah/peristiwa di sekitar kehidupan penyair. Tema adalah langkah dasar penyair dalam menyusun puisinya.

2. Pesan Puisi
Pesan disebut juga amanat puisi. Pesan adalah sesuatu yang ingin disampaikan penyair kepada pembacanya/pendengarnya. Pesan merupakan nilai yang didapat dan dilihat dari sudut pandang penyair, sedangkan kesan adalah nilai dari segi pembaca atau pendengar.

3. Makna Puisi
Makna puisi adalah isi yang tersirat dalam puisi tersebut. Untuk menemukan isi puisi, kamu harus mendengarkan pembacaan puisi dengan saksama dan memahami simbol atau lambang dari puisi.

4. Sajak/Rima
Keindahan sebuah puisi terdapat pada rima/sajak bunyi di akhir baris sesuai pilihan kata yang digunakan.
Contoh  :

Dalam hatiku yang bimbang
Wajahmu selalu terbayang
Kuharap dirimu akan segera datang
Agar diriku merasa tenang
Baca Selanjutnya

Dalam sajak di atas yang dominan adalah bunyi sengau/ng, m, n/. Bunyi sengau dalam sajak ini mendukung suasana si aku karena ia berharap mendapat rasa tenang, serta kedamaian hati sebab kerinduannya pada seseorang bisa terobati apabila ia hadir pada dirinya dan hatinya.

5. Diksi/Pilihan Kata
Diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair untuk mewakili apa yang dipikirkannya sebagai media ekspresi dalam puisi. Pengarang menggunakan citraan, majas, kata asing, atau kata lain untuk mewakilinya.

Biasanya seorang penyair sengaja memilih kata yang tepat untuk menunjukkan keindahan sebuah puisi. Keterikatan rima antara baris satu dengan baris yang lain akan menimbulkan kesan bahwa itulah keunikan dan keindahan bahasa dalam puisi.