05 Februari, 2015

MIMPI SANG PENJAJA KORAN

Tags



Cerpen

     Sore itu disimpang jalan ibu kota sebuah mobil keluaran luar negri berjalan agak perlahan, seorang wanita dengan pakaian mewah dengan tanpa dosa melemparkan kardus berisi makanan mahal ke tepi jalan. Sebuah pemandangan yang sudah biasa di negeri ini, terlalu banyak orang yang kurang menghargai apa itu syukur dan berbagi.

     Sementara itu di tepi jalan Fahri kuyub menggigil menahan dingin tanpa jas hujan untuk menjajakan koran, dalam hati Fahri bergumam “dasar orang kaya membuang sampah sembarangan” perlahan Fahri mendekati kardus yang dibuang oleh wanita dalam mobil mewah tadi, Fahri bermaksud membuang kardus itu kedalam tempat sampah, alangkah terkejutnya Fahri bercampur gembira saat melihat isi kardus yang berisi fried chicken yang masih layak untuk dimakan, sekali lagi Fahri bergumam “dasar orang kaya makanan masih begini kenapa dibuang ya,? Ah..mas bodo lah mungkin mereka memang terlalu bayak uang, ibu dan adik pasti senang kalu aku pulang membawa makanan ini” lalu Fahri memasukkan makanan  itu kedalam tas lusuhnya.

     Hari menjelang mahrib tapi hujan tak reda, Fahri sedikit murung karena surat kabarnya belum semuanya terjual. Fahri tersadar dari lamunanya saat mendengar adzan mahrib dari masjid di seberang jalan, bergegas Fahri berjalan menuju masjid untuk sholat. Selepas sholat mahrib Fahri keluar dari dalam masjid untuk kembali menjual korannya yang belum semuannya terjual , sesampai di dekat pintu Fahri memandang kotak amal yang terletak disebelah pintu, Fahri merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang kertas seribuan dan memasukannya kedalam kotak amal itu.

     Menjelang isya’ Fahri melangkah pulang walaupun korannya tidak habis semua, sampai dirumah Fahri menghitung hasil jualan korannya hari ini, lalu ia berkata pada ibunya “ibu hari ini Fahri hanya mendapatkan dua puluh sembilan ribu bu, sebenarnya tadi genap tigapuluh ribu tapi yang seribu Fahri masukkan ke kotak alam dimasjid” ibunya mendekati Fahri dan memeluknya sambil berucap “tidak apa-apa nak, kita syukuri saja, rezeki itu sudah Allah yang mengatur ” sambil berdiri Fahri berkata kembali “ oh iya bu uangnya dibagi 3 ya,yang sepuluh ribu ditabung untuk biaya sekolah Fahri dan adik, yang sepuluh ribu buat belanja ibu dan yang sembilan ribu ditabung untuk biaya umroh ibu, kan ibu berencana untuk umroh,?” sambil terharu ibu Fahri memeluknya anaknya sambil berkata “iya nak...”. 

     Fahri teringat makanan yang dibuang orang dalam mobil tadi dan diambilnya, dengan bergegas Fahri melepaskan pelukan ibunya, sambil membuka tas Fahri berkata “ibu Fahri membawa makanan enak nih, adik dimana bu, ayo kita makan”, ibunya tak menjawab perkataan Fahri, ia hanya memandang makanan yang dibawa Fahri dengan curiga, “Fahri kamu mendapatkan makanan itu dari mana, itu kan makanan mahal,” kata ibu Fahri dengan sedikit keras, “kamu mencuriya,?... tidak bu jawab Fahri, Fahri mengambilnya dijalan, tadi orang didalam mobil membuangnya, tadinya Fahri mau membuangnya ke tempat sampah tapi waktu Fahri lihat makananya masih bisa dimakan terus Fahri bawa pulang” jawab Fahri. “ya sudah kalau begitu kamu panggil adikmu kita makan sama-sama, hanya ibu berpesan kepadamu, lain kali jangan sekali kali kamu mengambil barang yang bukan milik kamu, “tidak bu, itu kan barang yg sudah dibuang” iya sudah kamu panggil adikmu sana.

     Setelah selesai makan Fahri bergegas ke meja belajarnya, dia membuka buku dan mengejakan tugas dari sekolah, tugas sekolah belum selesai kerjakan tapi Fahri sudah tidak kuat meahan kantu yang mendera karena terlalu lelah. Cepat langkah sang waktu berjalan, sang pagi sudah menunggu si Fahri. Pagi itu Fahri sibuk mempersiapkan buku, tugas dari sekolah hanya selesai setengah ia kerjakan, bergegas Fahri siap-siap untuk berangkat sekolah demi merajut mimpi-mimpi yang kerap menggangu tidurnya.

Baca Juga  : Ternyata Aku Telah Mati


EmoticonEmoticon